WFH = BELAJAR PENSIUN

Oleh : H. A. Baijuri, S.Pd.I, M.Si.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an :
Wa qul I’maluu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuuluhu Wal mu’minuun.

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. (At-taubah).

Al’amal dalam bahasa indonesia berarti bekerja. Meskipun secara “mata telanjang” bekerja selalu diidentikkan dengan mencari uang, tetapi Islam memandang bekerja lebih dari sekadar demikian.

Dalam Islam bekerja juga merupakan suatu bentuk ibadah selama pekerjaan itu diniatkan untuk hal-hal baik, seperti menjemput rezeki untuk keluarga, membiayai anak sekolah dan bersedekah.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah semenjak kapan kita harus bekerja dan kapan berhentinya? Pada umumnya masyarakat kita mulai bekerja setelah menyelesaikan bangku kuliah dan kemudian bekerja di instansi-instansi pemerintahan atau sektor swasta.

Terlepas kapanpun mereka memulai pekerjaan tersebut dan dimanapun mereka mengembangkan keilmuan sesuai dengan kemampuan, bekerja sejatinya akan menemukan titik akhir atau yang kita sebut sebagai masa pensiun.

Ternyata benar konsep Islam yang menyatakan bahwa setiap kejadian bahkan musibah sejatinya mengandung hikmah tergantung bagaimana kita-manusia memandang kejadian tersebut. Saat ini yang sedang marak dan yang sedang kita hadapi bersama-sama adalah ujian hidup bernama Virus Corona. Bersamaan dengan hal tersebut, salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi wabah ini adalah dengan menerapkan Work From Home atau kerja dari rumah. Di luar semua pro-kontra penerapan WFH ini, saya mengajak kepada semua masyarakat untuk sama-sama memandang positif dari kebijakan tersebut.

Dari 24 jam dalam sehari, mungkin tidak sampai setengahnya kita bisa bertatap wajah, bercengkerama bahkan hanya untuk sekadar bercanda bersama anak-anak, itupun hanya bisa kita lakukan pada malam hari dan di saat yang sama kita sudah letih. Pergi sebelum matahari benar-benar terbit dan pulang saat matahari sudah tenggelam. Saat ini kita merasakan sebaliknya, dengan kebijakan WFH kita “dipaksa” pensiun sebelum waktunya pensiun.

Meskipun terkesan terlalu cepat mengatakan pensiun, tetapi suasana dan keadaannya persis seperti yang kita rasakan saat ini. Mungkin ini adalah momentum kita sebagai pegawai, pekerja atau apapun itu untuk sama-sama mengingat bahwa suatu saat nanti akan datang masa-masa seperti ini, masa-masa di mana kita hanya bisa mengerjakan segala sesuatunya dari rumah. Tidak ada kantor, tidak ada ruangan ber-Ac bahkan tidak ada istilah atasan dan bawahan. Hikmah lainnya adalah kita bisa lebih lama menatap wajah anak-anak kita, isteri kita dan menghabiskan waktu bersama mereka.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an

“Faidza faraghta fanshob”

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sebuah urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain” (Surah Al-insyirah).

Allah SWT memerintahkan kita untuk memanfaatkan waktu yang kita miliki. Work From Home tidak menjadikan kinerja pegawai menurun, karena itu juga merupakan bentuk kontribusi kita pada saat ini. Ketika luang maka isi dengan hal-hal bermanfaat.

Meskipun WFH tidak boleh menanggalkan kedisiplinan yang sudah biasa kita lakukan di kantor. Kedisiplinan tidak bisa kita lepaskan dari keseharian kita. Semakin disiplin maka semakin banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk hal-hal bermanfaat.

Setelah selesai mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah, maka waktu luang yang kita miliki kita gunakan untuk ikut berkontribusi dengan cara terjun langsung menyemprotkan disinfektan bersama pemerintah setempat atau dengan cara lainnya.

Saat ini, para ahli, para pakar, para petinggi negara terus berusaha memberikan pencegahan dan mencari cara untuk menekan angka korban dari pandemi ini, di luar semua ikhtiar kita seyogyanya tidak begitu saja melupakan potensi kekuatan spiritual yang ada di dalam diri kita. Maka marilah kita terus berikhtiar dan berdo’a kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berakhir, Amiin. (*)

Penulis adalah Kepala Subbag Kepegawaian dan Hukum Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *