Soal Dugaan Pupuk Palsu, Kadistan Banten Langsung Bergerak Cepat

SERANG I DINAMIKA BANTEN.CO.ID — Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M. Tauhid merespon cepat saat mendapat kabar dugaan beredarnya pupuk palsu jenis Phonska di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Agus langsung menurunkan tim pengawas pupuk dan pestisida untuk mengkroscek kebenaran kabar tersebut untuk sekaligus melakukan tindakan sesuai aturan yang berlaku.

“Karena ini masuknya sudah ranah pidana hukum, maka saya selaku Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten pada fungsi pengawasan pupuk dan pestisida segera melakukan tindakan dengan menurunkan tim pengawas provinsi untuk selanjutnya berkodinasi dengan tim pengawas kabupaten/kota dan penegak hukum. Jadi sekarang hari ini juga tim langsung saya bergerak untuk terlebih dahulu melakukan check and richeck,” ucap Agus kepada dinamikabanten.co.id di kantor, Selasa (12/01/2021).

Menurutnya langkah tegas ini penting untuk dilakukan agar tidak menganggu ketahanan pangan di Banten. Apalagi dalam Rakernas kemarin di Istana Negara, bapak Presiden sudah menyampaikan apresiasi terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dalam upaya pembangunan pertanian.

“Seperti pada sektor produk padi bahwa pada tahun 2019 Banten masuk dalam peringkat 10. Sementara pada tahun 2020 naik menjadi perinkat 9,” katanya.

Ditengah konsentrasi pembangunan pertanian ini, Agus mengaku tidak ingin direcoki oleh hal-hal yang akan menghambat dalam upaya tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mendapat pesan singkat via WhatsApp dari Adi Kuswoyo selaku Produsen Petrokimia Perwakilan Banten dengan menyatakan “Prihatin terhadap dugaan tersebut, dan sangat menyayangkan apabila masih juga terdapat pupuk yang diduga palsu tersebut,”.

Berkenaan dengan hal tersebut, lanjut pesan Adi Kiswoyo yang dibacakan Agus Tauhid, distributor dari kios awal tahun sudah melakukan stok, dan sampai saat ini distributor sudah melakukan penebusan. “Ini distributor-nya Petrokimia. Jadi mereka sudah mengantisipasi hal-hal tersebu,” ucapnya.

Agus juga mengakui bahwa sebelumnya Desember 2020 sempat mendapat laporan yang sama soal dugaan seperti ini. Namun, kata Agus, laporannya pada jenis pupuk yang berbeda. Ini, katanya, seperti sebuah penomena yang terjadi disaat berkembangnya isu kelangkaan.

“Ini biasanya muncul di pulau terluar dan di daerah perbatasan yaitu terluar Banten dan terluar Jawa Barat pada titik-titik lalu lintas. Dan seperti yang sudah-sudah, temuan pembuatan pupuk itu biasanya tejadi dareah Sukabumi, Jawa Barat,” jelasnya didampingi Kasi Lahan dan Air, Sodikin dan Wira, Kasi Pupuk dan Pestisida. (adg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *