SMK Negeri 7 Pandeglang Terapkan Pembelajaran Blended Learning

Pandeglang I Dinamika Banten — Era pademi telah mengubah seluruh kebiasaan manusia dalam kehidupan, termasuk pembelajaran di sekolah. Kebiasaan pembelajaran tatap muka telah dihentikan selama era pandemi dan diganti dengan pembelajaran daring. Di sisi lain, guru dan siswa tidak siap dalam penggunaan IT dalam pembelajaran. Di samping itu, sekolah juga tidak didesain untuk pembelajaran daring.

Tahun pelajaran 2020/2021, pemerintah mengizinkan untuk membuat kebijakan pembelajaran campuran (daring dan luring). Pembelajaran ini dikenal blended learning. Pembelajaran luring diizinkan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Penyediaan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran luring antara lain: tempat cuci tangan di setiap kelas, jaga jarak, pakai masker, dan semua tempat kantin dilarang buka.

Kepala SMK Negeri 7 Pandeglang, Ahmad Wihya Dipyana menjelaskan bahwa Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.

“Blended learning ialah metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis. Perpaduan antara pembelajaran konvensional di mana pendidik dan peserta didik bertemu langsung dengan pembelajaran secara online yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Adapun bentuk lain dari blended learning adalah pertemuan virtual antara pendidik dengan peserta didik. Dimana antara pendidik dan peserta didik mungkin saja berada di dua tempat yang berbeda, namun bisa saling memberi feedback, bertanya, atau menjawab. Semuanya dilakukan secara real time,” tuturnya.

Dikatakan, beberapa alasan diterapkannya sistem Blended Learning di sekolahnya. “Diantaranya kontur lahan sekolah yang berbukit, sulitnya memperoleh akses jaringan internet dan tidak semua siswa memiliki perangkat komunikasi (handphone android). Itulah beberapa kendala yang dihadapi saat pembelajaran daring murni dimasa Pandemi Covid-19,” katanya kepada Tangerang Raya di Pandeglang, Senin (1/2).

Dikatakannya, hambatan lainnya yang dialami oleh siswa, pada umumnya tidak memiliki kuota yang memadai, tugas-tugas dari guru menumpuk, dan banyak pula
orangtua yang tidak mampu membantu membimbing putra-putrinya saat belajar
di rumah. Pada akhirnya banyak siswa merasa jenuh dan tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh.

Atas kondisi tersebut, Kepsek yang pernah memimpin SMK Negeri 1 Pandeglang ini memutuskan untuk memadukan pembelajaran daring dan luring melalui blended learning. “Materi-materi yang bersifat terori dilakukan secara daring sementara pembelajaran yang bersifat praktek dilakukan secara luring namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat,” ujarnya.

Ia menjelaskan dalam upaya memberikan kemudahan memperoleh bahan ajar, guru memberikan modul atau buku paket pembelajaran kepada siswa. “Siswa bisa mengambil langsung ke sekolah atau guru yang akan memberikan langsung berdasarkan klaster tempat tinggal anak,” ucapnya.

Kepsek dengan prinsip low profil ini juga menyampaikan layanan kemudahan lainnya untuk siswa. “Anak yang kurang aktif serta jarak rumahnya dekat diundang untuk datang ke sekolah. Jika dia memiliki gawai namun tak punya kuota, bisa langsung menikmati fasilitas WiFi yang tersedia di sekolah. Namun jika tidak punya, dia bisa memanfaatkan ruang perpustakaan dan laboratorium,” tambahnya.

Kepsek yang juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, seperti membina para pengrajin, kelompok tani, dan para pemuda ini memastikan tingkat animo dan efektivitas pembelajaran blended lebih tinggi dibandingkan dengan metode pembelajaran yang hanya mengandalkan daring murni. “Kalau berdasarkan persentase pada kisaran 50-60 persen untuk daring dan 70-80 persen untuk blended learning,” urainya.

Pihaknya menyebutkan profile sekolah yaitu beralamat di Jl. Naggor Karang Tanjung, Pagadungan, Kabupaten Pandeglang ini memiliki peserta didik sebanyak 934 sswa dengan 6 jurusan kompetensi yaitu Multimedia, TKJ, Akuntansi, TKR, Teknik Permesinan dan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura dan lahan seluas 1,57 hektare.

“Kalau ruang praktek semua jurusan sudah lengkap, hanya kita kekurangan 3 ruang kelas. Sekarang jumlah rombongan belajar ada 28 rombel. Sementara ruan kelas yang tersedia sebanyak 25 kelas,” tutupnya. (adg)







Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *