Selenggarakan Boarding School, MAN 2 Kota Serang : Madrasah Unggulan Plus Keterampilan

SERANG I DBC — Minat masyarakat Provinsi Banten untuk melanjutkan pendididikan anaknya di sekolah yang berbasis keagamaan Islam semakin besar. Hal Itu terlihat pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dari tahun ke tahun terus mengalami lonjakan pendaftar.

Salah satunya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Serang. Pada PPDB Tahun Ajaran ((TA) 2020/2021 ini, sekolah yang dipimpin H. Obay Baesyuni, M.Pd ini menerima pendaftar sebanyak 750 siswa dengan kuota yang tersedia sekitar 341 siswa. Artinya lebih dari 100 persen pendaftar di sekolah yang terletak K.H. Abdul Hadi Cijawa No.3, Cipare, Kec. Serang, Kota Serang ini tidak bisa diterima.

“Dalam menerima siswa kami berupaya menyesuaikan dengan kapasitan ruang belajar. Jadi meskipun peminat banyak, tidak bisa sekoyong-konyong kami terima begitu saja. Prinsip menjaga kualitas pelayanan pendidikan tentu harus kami prioritaskan. Sehingga jumlah rombel dalam satu kelas harus benar-benar diperhatikan,” kata Obay Baesyuni, Kepala MAN 2 Kota Serang saat ditemui di ruang kerjanya, Serang, Rabu (15/7/2020).

Obay menuturkan bahwa MAN 2 Kota Serang merupakan sekolah unggulan plus keterampilan dengan melaksanakan kegiatan asrama. Penerapan sekolah berbasis boarding school itu, kata Obay, mengacu pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 66 tahun 2016 tentang penyelengaraan pendidkan madrasah dan Perdirjen No 29 tahun 2013 tentang juknis struktur organisasi dn pengelolaan Dana Komite madrasah.

“Hanya saja untuk pembelajaran keterampilan belum bisa dilaksanakan secara optimal, mengingat gedung milik MAN 2 Kota Serang yang seharusnya digunakan sebagai pusat pembelajaran keterampilan, saat ini sedang diisi Kantor Kemenag Kota Serang itu,” ucapnya.

Kondisi tersebut, sambungnya, telah disampaikan kepada Kemenag Pusat saat melakukan zoom meeting bahwa pihaknya perlu mencari jalan keluar dari permasalah itu.

Namun dalam eksistensinya, untuk sementara tiga guru untuk tiga jurusan keterampilan (tata busana, elektronika dan funiture) itu menyampaikan materinya secara terori. “Walaupun sesekali metode prakek itu diberikan, hanya saja belum bisa secara optimal dalam penyampaiannya,” tukasnya.

Cikal Bakal Asrama

Selanjutnya, Kepsek yang telah menjabat sejak 2016  ini juga memaparkan cikal bakal dibukanya asrama bagi siswa MAN 2 Kota Serang.

“Awalnya penyediaan gedung asrama hanya diperuntukkan bagi siswa yang kediamannya jauh dari sekolah. Karena ketika itu siswa kami ada dari Bayah, ada dari Cibaliung dan bahkan ada juga dari luar Banten. Seiring waktu kami coba melakukan musyawarah bersama Komite dan orang tua siswa soal rencana wajib asrama seluruh siswa. Rupanya usulan tersebut mendapat respon positif dari orang tua siswa. Sehingg Komite melakukan swadaya untuk pembangunan asrama tanpa ada bantuan dari pemerintah,” bebernya.

Sebagai sekolah madrasah negeri sekaligus menerapkan asrama, kata Obay, seiring waktu tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua siswa. Dari tahun ke tahun animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya disini sangat besar.

Ia menyebut di sekolah berlahan sekitar 9.800 m2 itu membuka empat jurusan peminatan yaitu IPA, IPS, Bahasa dan Agama. Tak lama berselang muncul peraturan bahwa madrasah yang membuka peminatan jurusan agama mewajibkan siswanya untuk tinggal diasrama. “Jadi aturan itu gayung bersambut dengan pola pendidikan asrama yang memang sudah kita lakukan,” ujarnya.

Dalam menentukan besaran pembiayaan, pihaknya menjamin demi kebutuhan anak didik tersebut selama tinggal 24 jam di sekolah dan asrama, dari urusan makannya, laundry, operasional dan personal.

Ia merinci pembiayaan pendidikan di MAN 2 Kota Serang yaitu Rp 2,1 juta untuk biaya kebutuhan personal (kasur, lemari, bantal, seprei dan alat makan), Rp 11 juta biaya kebutuhan personal terdiri dari makan 3 kali, laundry, operasional dan personal selama setahun.

Selanjutnya ada biaya koperasi 2,05 jt untuk kebutuhan seragam lengkap dan terakhir biaya titipan komiten sebesar Rp 2,5 juta. Jika ditotal seluruh biaya tersebut adalah sebesar Rp 17.822.500.

“Jadi total biaya itu adalah hasil kesepakatan atau musyawarah antara komite dan orang tua. Biaya itu juga dibayarkan selama setahun. Dan dipastikan tidak akan ada pembiayaan apa pun kepada siswa selain dari yang sudah kita rinci itu,” tukasnya.

Penulis : dinamikabanten.co.id
Editor : Ade Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *