SDANTEN Kritik MoU Pemkab Serang dan China

SERANG I DBC — Nota kerjasama atau memorandum of understanding (MoU) Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kota (Pemkot) Linfen, Provinsi Shanxi, Cina mendapat kritikan dari sejumlah elemen masyarkat di Kabuapten Serang.

Ketua Solidarias Pemuda Banten (SEDANTEN), Ahmad Jati Putra Pratama kepada dinamikabanten.co.id, Rabu (7/8/2019) mengatakan dengan tegas menolak kerjasama yang telah terjalin antara Pemkab Serang dengan Pemkot Linfen-China.

“Kami khawatir jika kerjasama ini ditindaklanjuti sampai pada tataran implementasi, akan banyak masalah yang terjadi di wilayah yang mengusung jargon Serang BERTAKWA ini,” kata Jati.

Berdasarkan informasi yang saya terima, kata Jati, MoU itu  menitikberatkan pada empat point yakni investasi industri, pariwisata, pendidikan, dan pertanian.

“Fokus pada point investasi industri kami khawatir serbuan tenaga kerja asing di Kabupaten Serang akan semakin menggurita sementara tenaga kerja lokal atau putra daerah lagi-lagi hanya menjadi penonton di tempat kelahirannya sendiri,” kata Jati.

Sementara untuk bidang pertanian, pendidikan dan pariwisata, Jati kembali mengingatkan agar Pemkab Serang perlu menjaga dan melestarikan potensi Sumber Daya Alam (SDA) daerah serta kearifan lokal yang selama ini sudah melekat menjadi icon bagi masyarakat Kabuapten Serang.

“Karena, mengingat kota Linfen masuk ke dalam kota paling polusi d dunia. Yang 30% penduduk Linfen mengalami cacat lahir, dan 85% penduduknya mengalami batuk-bantuk karena polusi industri,” jelasnya.

Atas dasar dan pertimbangan tersebut, Jati, menilai bahwa Pemkab Serang sudah salah dalam mengambil keputusan atas terlaksananya kerjasama tersebut dan mendesak untuk kembali meninjau ulang MoU tersebut. Dengang dasar, imbuhnya, kekhawatiran akan menularkan sistem kegagalan dalam mengelola daerah industri yang sudah terjadi di kota linfen-china.

Dan yang menjadi poin penting, imbuhnya lagi, Pemkab Serang harus memikirkan nasib buruh daerah setempat; bahwa dengan datangnya buruh cina hanya akan berakibat berubahnya moral, budaya kearifan lokal,” tukasnya.

Jati berharap, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah bisa memahami dan mengamini penolakan kami. “Intinya kami tidak punya tendensi apapun terhadap Bupati Serang, suara ini pure adalah bagian dari upaya kami untuk mengingatkan agar Pemkab Serang bergerak pada jalur yang selaras dengan falsafah kedaerahan yang selama ini kita jaga,”

Jati juga memastikan bahwa SEDANTEN siap berdisuksi jika agumentasi penolakan ini dianggap berlebihan. “Jika itu diperlukan, kapanpun dimanapun kami siap berdialog dengan Bupati Serang,” ucapnya. (ade gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *