Pemakaian KB MKJP Upaya Pengendalian Kelahiran

SERANG I DBC — Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai  dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Pengaturan kehamilan adalah upaya membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat dan obat kontrasepsi.

Keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk atas perkawainan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang  Maha Esa. (Undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga)

Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia terjadi penurunan dari 1,49 pada tahun 2000-2010 menjadi 1,43 pada tahun 2010-2015. Laju pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan agar tetap seimbang agar daya dukung lingkungan tetap dapat terjaga.

Di Provinsi Banten laju pertumbuhan penduduk masih cukup tinggi diatas nasional  angka mencapai 2.34 persen. Kondisi terkini Angka TFR di Kabupaten Serang  masih berkisar 2.6 dengan CPR (Contraceptive Prevalence Rate) berkisar  60.65%  (Susenas, 2015) Melihat trend ini sangat diperlukan kebijakan khusus dalam rangka mengurangi tingkat putus pakai kontrasepsi pada akseptor KB yaitu kebijakan Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Serang dalam  meningkatan CPR (Contraceptive Prevalence Rate), meningkatan KB MKJP, meningkatan Peserta Aktif (PA)  menurunan unmet need, dan menurunan angka putus pakai.

Pelayanan dan Pembinaan KB memperoleh hasil pelayanan KB MKJP Sebagaimana dengan hasil pelayanan peserta KB sebanyak 1300 akseptor dengan peserta KB Implan 1075 Akseptor dan peserta KB IUD 225 Akseptor.

Pelayanan KB MKJP terlaksana dengan bantuan mitra kerja dan peran aktif masyarakat. Peningkatan kesertaan KB MKJP dinilai lebih efektif dan efesien dalam rangka mengatur kelahiran. Sehingga tujuan Meningkatnya kesertaan ber KB menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang dalam upaya Mewujudkan pertumbuhan penduduk yang  seimbang dan keluarga berkualitas  melalui keluarga berencana dapat tercapai.

Namun dalam dua dekade terakhir  pencapaian program KB stagnan dan semakin melemahnya implementasi program KB di lini lapangan.
Upaya untuk menurunkan persentasi kehamilan untuk menunda atau menjarangkan kehamilan dan menurunkan persentase kehamilan yang tidak diinginkan dari pasangan usia subur yaitu pemakaian alat kontrasepsi.

Pemakaian metoda kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) berupa  Implant, IUD dan kontap merupakan pilihan yang sangat tepat.  Pada beberapa kasus seringnya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dikarenakan kegagalan dalam penggunaan alat/obat kontrasepsi. Contohnya pada pemakaian pil KB karena sering lupa, atau penggunaan suntikan telat pada suntik ulang berikutnya setiap 3 bulan sekali dan ada juga suntikan yang setiap bulan sekali.

Penggunaan Implant efektif untuk menjarangkan kehamilan selama 3 tahun, IUD selama 8 – 10 tahun, dan jika pasangan benar-benar tidak ingin menambah anak lagi dan  istri berusia di atas 35 tahun sebaiknya menggunakan kontap (kontrasepsi mantap) melalui Medis Operasi Wanita (MOW) dan pada pria Medis Operasi pria (MOP) dengan tindakan pembedahan.

Pada momen-momen strategis di lapangan dibarengi pelayanan Dinas KBP3A Kab. Serang secara gratis, minat masyarakat terhadap pemakaian implant sangat antusias sehingga setiap dilaksanakan kegiatan banyak terjaring akseptor baru maupun akseptor ganti cara dari pakai suntikan atau pil ke Implant dan IUD.  Sehingga kegagalan pada penggunaan pil atau suntikan dapat ditekan, dengan jarak rentang waktu yang panjang efektif mencegah kehamilan dan menjarangkan kehamilan dalam waktu yang cukup lama merupakan upaya pengendalian kelahiran.

Pemilihan KB menggunakan MKJP disarankan dibanding non MKJP hanya untuk mencegah risiko putus pakai.

“Angka pemakaian alat kontrasepsi oleh ibu-ibu kita yang putus pakai cukup tinggi. Jadi dia minum pil KB atau suntik hanya sebentar saja. Setelah itu tidak lagi karena lupa minum misalnya,” terang Kepala Dinas KBP3A Kab. Serang, Takrul Wasyit.

Takrul mengatakan, kontrasepsi merupakan salah satu alat efektif untuk mengatur kelahiran, jarak kehamilan, serta mencegah kehamilan yang tidak diinginkan bagi pasangan usia subur.

“Kontrasepsi juga berguna untuk menjaga kesehatan reproduksi perempuan dan menurunkan tingkat kematian ibu dan bayi. Penggunaan alat kontrasepsi juga sangat berpengaruh untuk menekan laju  penduduk di Kab. Serang dan Indonsia pada umumnya,” ucapnya. (Advertorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *