Oknum Disperindagkop Kota Serang Diduga Pungli 8 Juta Pada Pedagang di Pasar Kepandean, Ini Langkah MPC Pemuda Pancasila…

Serang | Dinamika Banten — Adanya isu dugaan pingutan liar Sebesar Rp 8 juta (delapan juta rupiah) di Pasar Kepandean Kota Serang yang dilakukan oleh oknum Dinas Perindagkop Kota Serang, Wakil Ketua ll PP Pota Serang Kusnandar mendatangi kantor disperdaginkop Jalan Letnan Jidun Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang Kota Serang,

Kedatangan wakil ketua ll MPC PP Kota Serang kusnandar bersama Dankoti di sambut baik oleh Kadisperdaginkop kota serang Wasis Dewanto beserta jajarannya.

Wakil ketua ll MPC PP kota serang, Kusnandar mengatakan kedatangan dirinya ke disperdaginkop kota serang ingin menkonfirmasi sekaligus meminta klarifikasi terhadap informasi yang kami terima dari para pedagang di Pasar Kepandean yang di pungut biaya sebesar 8 juta (delapan juta rupiah) per auning, ini jelas sudah melanggar aturan. Kami sebagai organisasi masyarakat melakukan tugas control sosial terhadap kebijakan Pemerintahan Kota Serang

“Kami Pemuda Pancasila mendapat laporan dari beberapa pedagang yang berjualan di auning kepandean ada sejumlah oknum yang mengatasnamakam disperdaginkop meminta sejumlah uang auning sebesar Rp 8 juta” ujar Kusnadar.

“Maka dari itu kami menanyakan kebenaran tersebut kepada kadisperdaginkop Kota Serang, alhamdulilah kami di sambut baik dan di jelaskan oleh kepala dinasnya langsung,” katanya.

Kepala Disperindagkop Kota Serang, Wasis Dewanto dan Kusnandar, Waka II PP Kota Serang

Sementara itu Kepala Disperdaginkop Kota Serang, Wasis Dewanto mengatakan dirinya memastikan Disperdaginkop tidak memungut biaya apapun kepada para pedagang, kita memberikan auning kepada pedagang untuk memfasilitasi padagang akibat relokasi pedang di Taman Sari.

“Itu tidak benar adaya pungutan biaya auning sebesar Rp 8 juta (delapan juta rupiah) ini kan salah satu fasilitas sari negara yang kita buat jika ada yang memungut sebesar tersebut kita akan melaporkan kepada pihak yang berwajib ada pun distribusi hanya uang sampah para pedagang” ujar Wasis.

“Ada pun biaya tambahan itu dari pemiliknya sendiri karena memang pasti ada tambahan untuk membangun auning seperti penambahan hetbel untuk pedagang beras karena harus tertutup,” pungkasnya. (Hendris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *