Masyarakat Berperan Penting Dalam Pemberantasan Narkoba

SERANG I DBC — Berdasarkan data Badan Nasional Narkotika (BNN), angka pengguna penyalahgunaan narkoba meningkat. Selama dua tahun sejak 2015 sampai 2017, kenaikan jumlah pengguna narkoba mencapai 14.751 orang. Pihak BNNP Banten menyakini jumlah itu akan bertambah seiring dengan hadirnya data terbaru edisi 2018 dan 2019 yang saat ini masih dalam analisa BNN Pusat.

Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNN Provinsi Banten mengungkapkan, tahun 2015, pengguna narkoba di provinsi yang memiliki delapan kabupaten kota ini sebanyak 155.693 orang atau 1,74 persen dari jumlah penduduk.

“Sedangkan tahun 2017 naik menjadi 170.444 orang atau 1,83 persen,” ujar Kabid P2M, AKBP Abdul Majid, SH, MH Kepada dinamikabanten.co.id di kantornya, Jl. Syech Nawawi Al Bantani, Kamis (25/7).

Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna narkoba dari tahun ke tahun, BNN mengajak masyarakat untuk turut membantu memberantas dan tidak hanya menitikberatkan kepada BNN dan aparat semata.

Abdul Majid juga meminta untuk melapor kepada Rukun Tangga (RT) atau penegak hukum setempat apabila menemukan atau mencurigai adanya penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitarnya.

Selain itu, sambungnya, BNN terus berupaya dengan membangun strategi dalam rangka menangkal peredaran narkoba, salah satunya dengan memperkuat kerja sama dengan ormas-ormas/pegiat anti narkoba yang siap membantu dalam P4GN.

Menurut Abdul Majid, cara terbaik dalam memerangi penyalahgunaan narkoba, khususnya bagi milenial, adalah dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Selain itu, kontrol orang tua pun mesti ditingkatkan, seperti memperhatikan kegiatan anak saat berada di lingkungan sosial juga mengontrol penggunaan gadget saat mereka berselancar di media sosial.

Momentun MPLS

Pada bagian lain, Kabid P2M juga menjelasakan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2019 tampaknya menjadi bidikan tersendiri bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) Banten untuk menyosialisasikan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan dapat terhindar dari bahaya narkotika.

Dikatakan, sosialisasi melalui momentum MPLS tentunya sangat efektif agar para siswa memahami soal bahaya narkoba. Sebab, potensi narkoba masuk sekolah sangat tinggi.

Kegiatan itu juga, kata dia, terselenggara atas kerja sama dengan beberapa sekolah. Pada hari pertama masuk sekolah, para siswa diberikan pemahaman secara menyeluruh mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika.

“Sudah banyak paktanya narkotika menjerat para pelajar baik tingkat SMA maupun SMP. Makanya, sosialisasi ini penting agar para pelajar tidak sampai terjerumus ke sana,” ujarnya.

Abdul Majid mengutarakan, kegiatan tersebut sudah digelar di 101 sekolah dan berhasil memberikan sosialisasi kepada lebih dari 33 ribu siswa SMA/SMK di Banten.

“Kami sampaikan sosialisasi ini dengan interaktif dan menarik, sehingga para siswa baru juga antusias. Banyak di antara mereka yang bertanya seputar bahaya narkotika,” tuturnya.

Menurutnya, para pelajar cukup rentan terjerumus bahaya narkotika akibat faktor lingkungan dan rasa penasaran yang tinggi. Jika tidak diantisipasi, mereka akan mudah tergiur dan terbawa praktik penyalahgunaan narkotika yang pada akhirnya bisa menyebabkan ketergantungan bahkan berujung kematian. (ade gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *