Kemenag Banten : KUA Bukan Hanya Urusi Nikah

DBC I Serang – Mendengar Kantor Urusan Agama (KUA) persepsi masyarakat tertuju kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan. Padahal, tugas KUA tidak hanya mengurusi hal itu, tetapi mencakup aspek yang luas terkait pelayanan dan pembinaan keagamaan di masyarakat.

Kabid Urusan Agama Islam dan Bimbingan Syariah Kanwil Kemenag Provinsi Banten, H. Miftahudin Djabby mengungkapkan, Kantor Urusan Agama atau KUA selama ini secara umum dikenal masyarakat hanya sebagai tempat orang menikah. Padahal KUA memiliki peran yang lebih luas mencakup pelayanan dan pembinaan keagamaan.

” KUA harus bisa mengubah mindset, bahwa disana bukan hanya sebagai tempat nikah saja. Melainkan ada sepuluh jenis pelayanan yang harus mereka layani sesuai dengan Peraturan Mentri Agama (PMA) nomor 34 tahun 2016″, kata Miftah kepada dinamikabanten.co.id di Serang, Selasa (15/1).

Sebab, kata Miftah, bisa jadi masyarakat yang datang ke KUA itu akan melakukan pendaftaran haji, mungkin juga akan meminta informasi akta ikrar wakaf, mungkin juga mereka datang kesitu untuk meminta data penyuluh agama honor/negeri dan seterus-seterusnya sesuai dengan aturan yang ada.

Disamping itu, KUA memiliki peranan untuk menjaga kemuliaan agama-agama. Di sisi lain, KUA memiliki fungsi administratif yang selama ini kurang dikenal oleh masyarakat seperti mancatat wakaf dan hibah. “Dan di saat bersamaan pun berperan dalam menjaga akidah dalam Islam,” tandasnya.

Lebih lanjut Miftah pun berharap adanya perubahan ke arah modern dalam penyampaian dakwah pada masyarakat. Dua hal terpenting dalam penyampaian dakwah menurutnya adalah benar dan menarik. Jika dua hal tersebut berpadu maka akan disenangi oleh masyarakat.

“Kalau dakwah benar tapi tidak menarik maka umat akan mencari yang menarik meski pun kadang tidak benar. Itu bahaya. Makanya munculkanlan wibawa-wibawa yang bersifat formal, kharismatik, atau penampilan untuk membimbing masyarakat yang baik,” tuturnya.

Dia menjelaskan, di lembaga KUA ada elemen penghulu dan penyuluh. Dua petugas ini mempunyai peran strategis dalam membina paham keagamaan di tengah masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari tumbuhnya berbagai paham dan aliran baru di internal agama Islam.

“Potensi konflik internal atas nama agama bisa terjadi karena berbagai hal. Misal keberadaan aliran di internal Islam sendiri,” ujar Miftah.

Pria murah senyum ini menegaskan, paham kegamaan ini perlu dibina agar tidak menimbulkan konflik yang lebih luas. Potensi konflik dari beberapa aliran yang terjadi di internal Islam bisa menjadi hal penting untuk dilakukan pembinaan sekaligus pelayanan.

KUA ini, sambungnya, punya peran dalam persoalan-persoalan tersebut. Karena kebijakan baru menuntut KUA tidak hanya mengurusi nikah, tetapi juga membina dan memberikan layanan keagamaan kepada masyarakat.

“Dalam hal ini, KUA juga menjadi mediator terhadap konflik keagamaan yang terjadi di masyarakat,” tuturnya.

(Ade Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *