Kakanwil Kemenag Banten, Bazari Syam : Corona Jangan Dianggap Enteng

Serang I DBC — Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten, H. A Bazari Syam mengingatkan kepada seluruh ASN Kanwil Kemenag untuk tidak menganggap enteng terhadap virus Corona atau Covid-19 yang telah merebak di sejumlah wilayah Indonesia pada umumnya dan Banten pada khususnya.

Ia berpesan agar para pegawainya selalu mengikuti protokol yang telah disampaikan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam upaya antisipasi penyebaran pandemi Covid-19 seraya berikhtiyar dengan menjaga pola hidup sehat dan selalu menjalankan perintah agama.

“Seluruh pegawai Kanwil agar mematuhi semua aturan pemerintah, serius dan fokus terhadap upaya pencegahan dan tidak mengganggap enteng persoalan. Menjaga dan memelihara kesehatan adalah perintah agama,” kata Bazari Syam di Serang, Senin (23/3/2020).

Sebagai informasi pihaknya memang secara aktif telah dan atau terus berupaya mencegah penyebaran wabah virus mematikan ini dengan melakukan berbagai langkah dan kebijakan. Diantaranya pada pekan lalu membuat surat edaran meliburkan siswa madrasah selama 14 hari dan edaran penyesuaian sistem kerja selama masa KLB.

Pada Senin (23/3), Kanwil Kemenag juga telah melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh ruang kerja pejabat, pegawai dan lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Banten.

Kabag TU Kanwil Kemenag Banten, Lukmannul Hakim

Kabag TU Kanwil Kemenag Provinsi Banten, Lukmannul Hakim menambahkan bahwa berbagai kebijakan yang diambil dalam upaya penanganan Covid-19 tidak serta merta begitu saja, melainkan telah sejalan dengan surat edaran yang dikeluarkan Mentri Agama, selanjutknya diikuti oleh Kakanwil, Kepala Bidang Teknis Kanwil dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten dan Kota se-Banten.

Lukman menjelaskan soal penyesuaian kerja ASN Kemenag selama masa KLB. Pihaknya tidak begitu saja melepas seluruh pegawai untuk bekerja dari rumah mengingat ada sejumlah layanan vital yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Soal pengaturan kerja pegawai, kita lihat situasi dan kondisi yaa. Jika diperlukan sistem sift, kita coba sift. Tapi memang ada beberapa pelayanan yang tidak bisa ditinggalkan, salah satunya layanan persiapan haji,” katanya.

Ia juga menyebut sistem absensi sementara dilakukan secara manual dan tidak menggunakan fingerprint. “Data kehadiran pegawai untuk sementara menggunakan manuai, sebab menurut informasi fingerprint menjadi salah satu media penularan. Makanya kita coba hindari dulu,” katanya.

Reporter/Editor : Ade Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *