Kades Banjarsari Ngaku Tak Menerima Aliran Dana Pembebasan Lahan

DBC I LEBAK – Kepala Desa Tamansari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Ruyani, membantah menerima aliran dana dalam pembebasan lahan peternkan ayam oleh PT CTU di Kampung Manggu, Desa Tamansari mencapai nilai ratusan juta rupiah.

“Saya hanya menerima uang sebesar Rp 33 juta yang diberikan oleh mantan kepala desa Saefudin yang juga sebagai sebagai mediator dalam pembebasan lahan untuk peternakan ayam di desa saya,” terang Ruyani kepada wartawan, Senin 12/11.

Ia mengaku, tidak tahu sumber uang yang diberikan oleh mantan kades tersebut dan hanya berfikir uang yang diberikan oleh mantan kades itu adalah keuntungan dari jual beli lahan.
”Perlu saya tegaskan, jual beli lahan itu tidak ada merugikan masyarakat, karena sebelum dilakukan jual beli lahan,sudah dilakukan musyawarah harga antara perusahaan dengan pemilik lahan atau penggrap sesuai dengan harga pasaran,” tuturnya.

Lagian menurut Ruyani,tidak ada yang salah jika mediator mendapatkan keuntungan dari jual beli lahan.”Misalnya perusahaan memiliki plafon harga Rp 30 ribu permeter dan mediator berhasil membeli Rp 25 ribu per meter dan pemilik lahan tidak merasa dirugikan. Dimana salahnya ?. Kecuali uangnya bersumber dari APBD atau APBN,” ujar Ruyani.

Kedati demikian, ia mengakui pernah dijanjikan oleh seseorang dari perusahaan PT CTU untuk diberi uaag tanda terima kasih setelah pembebasan lahan selesai dan dibuatkan jual akta jual beli (AJB) di notaris.”Saya memang pernah djanjikan oleh seseorang akan diberikan uang setelah nanti dibuatkan AJB di notaris.Namanya saya diberi uang,ya saya terma karena saya tidak pernah meminta,” kilahya.

Ketika disinggung adanya rekapitulasi ketua tim yang dicatat sebagai penerimaan uang dari notaris dan pengeluaran mediator tertanggal 27 Oktober 2018 pengeluaran untuk OP, dimana dalam catatan itu kades Ruyani tecatat menerima uang sebesar Rp 150 juta.”Itu bohong semua,saya tidak pernah menerima uang sampai Rp 150 juta,namun kalau Rp 33 juta itu benar dikasih oleh Saefudin mantan kades yang menjadi mediator,” cetusnya.

Menurut beberapa warga yang berhasil dihubungi wartawan mengatakan, pembebasan lahan untuk peternakan ayam PT CTU terkesan janggal, karena harga yang diberikan kepada pemilik atau penggarap lahan tidak jelas. Mereka hanya menerima ganti rugi Rp 25 ribu per meter, namun belakangan beredar kabar jika harga dari perusahaan sebesar Rp 32 ribuan per meter.

Dalam catatan ketua tim/mediator, Kades Tamansari Kecamatan tercatat menerima uang sebesar Rp 150 juta.“Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya pihak penegak hukum ikut turun tangan guna memastikan kejelasan sumber dana yang dibagi-bagi mediator,” ujar Yayat salah seoang aktivis dan tokoh pemuda Lebak selatan.

“Kenapa saya minta notaris yang menangani pembebasan lahan dilokasi tersebut segera menjelaskan soal harga tanah yang sebenarnya, karena untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” sambung Yayat.

Pj Camat Banjarsari Kabupaten Lebak, Sardi, mengaku tidak tahu menahu soal jual beli maupun oper alih garapan dilokasi tersebut.“Saya belum tahu tentang pembebasan ini, namun saya berterima kasih atas informasinya ini kang,” kata camat. (Fahdi / Ade Gunawan)

Satu tanggapan untuk “Kades Banjarsari Ngaku Tak Menerima Aliran Dana Pembebasan Lahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *