Jelang Ramadhan Kedelai dan Migor Naik 100%, Kopti Banten Gelar Rakor

SERANG | DINAMIKA BANTEN — Menghadapi ramadhan para pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) Provinsi Banten menggelar rapat kordinasi (Rakor) penyesuaian harga produk di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Senin (28/03).

Ketua Kopti Provinsi Banten, Redi Kurniadi, SE mengatakan agenda pembahasan pada Rakor tersebut membahas kenaikan harga produk tahu akibat dari tingginya harga kacang kedelai di Indonesia.

Redi mengatakan berdasarkan aturan Permendag harga eceran tertinggi (HET) kacang kedelai di angka Rp 6. 800 per kilo, namun per hari ini harga bahan pokok tahu tersebut menyentuh angka Rp 13 ribu,dan Minyak Goreng menyentuh angka Rp 18ribu.

“Kenaikan harga minyak goreng juga menambah gaduh pengrajin tahu, karena notabene pengrajin tahu di Banten itu jenis tahu goreng bukan tahu putih atau biasa disebut tahu cina,” ucap Redi kepada Dinamikabanten.co.id

“Hari ini kita membahas penyesuaian harga tahu, nanti untuk tempe menyusul,” imbuhnya.


Ia mengatakan penetapan harga baru untuk produk tahu akan diumumkan pada awal ramadhan pasca pembahasan rakor usai.

“Nanti Insya Allah kita tetapkan di awal ramadhan, perihal tahu bakal libur atau tidak nanti pasca rakor kita putuskan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Manager Kopti Provinsi Banten, Husni Abdul Aziz, S. Pd menambahkan penyesuaian harga tahu tersebut perlu dilakukan agar tidak terjadi kegaduhan di lapangan apabila ada perubahan harga.

“Saat ini kan harga minyak goreng naik dan timbul kegaduhan, nah maka penyesuaian harga tahu ini dianggap perlu untuk menyamakan persepsi para pengrajin tahu di Banten agar tidak terjadi konflik di lapangan,” tuturnya.

Aziz juga berharap HET kacang kedelai segera kembali normal agar para pengrajin tahu-tempe di Banten tidak mengalami kerugian akibat mahalnya harga bahan pokok tahu tersebut.

“Yah semoga harga kacang kedelai bisa kembali normal, banyak sekali para pengrajin tahu yang mengalami kerugian bahkan terpaksa mengurangi jumlah pekerja akibat mahalnya harga kedelai,” pungkasnya. (Hendris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *