Dinobatkan SMK Terbaik Nasional Pencetak Wirausaha, Alvi Ruzabadi Ucap Syukur

DBC I Serang – SMK Bismillah lagi-lagi meraih gelar bergensi tingkat nasional dengan mengalahkan sejumlah SMK Se-Indonesia pada acara Sekolah Pencetak Wiraswasta (SPW) yang dihelat Kemendikub pekan lalu di Jakarta. Sekolah Pimpinan Alvi Ruzabadi ini dinobatkan sebagai SMK terbaik nasional sebagai sekolah yang melahirkan wirausahawan muda.

Kepala SMK Bismillah, Alvi Ruzabadi tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT atas prestasi yang diraih anak didiknya itu.

“Alhamdulillah pada kesempatan kali ini SMK Bismillah mendapatkan Gelar Sebagai juara Sekolah Pencetak wirausaha yang diberikan langsung oleh Mentri Pendidikan dan Direktur Seamolec Bangkok,” kata Alvi kepada Tangerang Raya di SMK Bismillah, Senin (18/2).

Alvi bercerita bagaimana proses siswanya hingga akhirnya meraih gelar bergensi itu.

“Mulanya SMK Bismillah bersaing dengan Semua SMK SE-indonesia. Kemudian dipilihlan 20 SMK terbaik dan dengan ijin Allah kita dapat masuk dalam Program 20 SMK terbaik,” tutur Alvi.

Selanjutnya, kata Alvi, 20 SMK tersebut mendapat bantuan dari kementrian untuk membina siswa SMK masing-masing untuk berperan aktif dalam pelaksanaan program ini.

”Dan dalam kurung waktu 3 bulan alhamdulillah kita mendapatkan gelar sebagai wirausahaan Terbaik se nasional karena perannya utk memajukan dalam kewirausahaan SMK” ucapnya。

Alvi menjelaskan, program SMK Pencetak Wirausaha (SPW) sangat baik untuk menumbuhkan wirausaha muda. Baginya, program ini sangat strategis untuk mengubah pola pikir guru kewirausahaan dan kepala sekolah yang masih meremehkan kewirausahaan.

“Saya senang, sekarang di Permendikbud tentang beban kerja guru kan disebutkan bahwa kepala sekolah punya tugas mengembangkan kewirausahaan,” ungkapnya.

Mendatang ia berharap agar rekan-rekan pengajar kewirausahaan dapat memahami potensi siswanya dan mau terus mengembangkan diri. Pola pikir wirausaha harus dibentuk dengan literasi yang baik dan keberanian melakukan terobosan.

Ia menyoroti guru kewirausahaan yang seringkali tidak mengetahui bahwa muridnya sudah berbisnis atau memiliki bisnis. Banyak pula guru kewirausahaan yang senang berada di ‘zona nyaman’, mengajar dengan referensi yang sudah usang dan tidak mendorong ketertarikan peserta didik.

“Vokasi, terutama kewirausahaan itu kan 70 persen praktik, sisanya teori. Kalau murid itu sudah praktik, jauh lebih gampang untuk memberikan pemahaman teorinya,” katanya.

(Hedi/Ade Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *