Dinilai Sukses, Kuota Transmigrasi Banten Bertambah

SERANG, DINAMIKABANTEN CO.ID — Pemerintah menilai sukses terhadap pelaksanaan program Transmigrasi di Banten. Atas keberhasilan itu, tahun ini Banten mendapat tambahan kuota 10 KK dimana dari 25 KK tahun 2018 menjadi 35 KK tahun 2019.

Kasi Transmigrasi Disnakertrans Provinsi Banten, Syafrizon mengatakan kuota 35 KK akan disebar/ditempatkan ke beberapa daerah penempatan yaitu 15 KK untuk Kabupaten Semelu, Aceh. 10 KK akan ditempatkan di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan, 5 KK di Pohuwato Kab. Gorontalo dan 5 KK di Kab. Muna Sulawesi Tenggara.

Syafrizon menjelaskan bahwa 15 KK daerah penempatan Semelu, Aceh akan dialokasikan untuk Kab. Lebak 5 KK, Kab. Tangerang 5 KK dan Kab. Serang 5 KK. “Semula kuota itu akan diberikan untuk Kota Tangerang Selatan, namun karena mereka tidak bersedia, akhirnya kuota kita berikan ke Kabupaten Serang,” kata Syafrizon kepada dinamikabanten.co.id, Minggu (5/5) di Serang.

Selanjutnya, 10 KK untuk Kab. Luwu Timur dialokasikan kepada Kabupaten Pandeglang dan 5 KK Kab. Muna, Prov. Sultra akan ditempati warga dari Kota Serang serta 5 KK Kab. Pohuwato Provinsi Gorontalo akan kembali diisi warga Kab. Serang.

“Penempatan 5 KK dari Kabupaten Serang untuk Kabupaten Pohuwatu terbilang unik. Sebab Kepala Dinas disana memang sudah memesan bahwa penemapatan untuk daerahnya agar kembali diisi oleh warga Kab. Serang,” kata Syafrizon.

Permintaan khusus itu, katanya, jelas tidak lepas dari penilaian positif terhadap transmigran kabupaten Serang tahun 2018. “Sehingga tahun 2019 ini mereka kembali meminta agar warga yang akan ditempati adalah dari daerah yang sama,” katanya.

Syafrizon menjelaskan program transmigrasi telah melahirkan banyak kisah sukses yang membanggakan. Lahan-lahan kosong mampu dikelola menjadi produktif, sedangkan para transmigran terangkat derajatnya dari miskin menjadi keluarga makmur dengan masa depan cerah.

“Program transmigrsai sendiri sudah berjalan sejak jaman orde baru dan sangat strategis untuk terus dijalankan. Maklum, transmigrasi terbukti sukses meredam laju ketimpangan pembangunan dengan menumbuhkan daerah-daerah baru yang lebih mandiri dan berkembang pesat,” paparnya.

Menurutnya, pembangunan transmigrasi merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan daerah. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan, terutama di kawasan yang masih terisolasi atau tertinggal. Tujuan yang diharapkan yakni meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat sekitarnya.

Saat ini, imbuh Syafrizon, pembangunan transmigrasi dilaksanakan berbasis kawasan. Program tersebut diprioritaskan untuk mendukung pembangunan wilayah perbatasan negara melalui pembangunan satuan permukiman baru, satuan permukiman pugar, dan satuan permukiman tempatan dengan berbagai pola usaha yang dikembangkan. Upaya pengembangan ekonomi lokal dalam rangka meningkatkan daya saing daerah juga terus dilakukan.

Lebih jauh dia menuturkan sejumlah kontribusi positif dari program transmigrasi yakni, pertama, membuka keterisolasian daerah terpencil.

Kedua, sambungnya, program transmigrasi telah mendorong pembentukan 2 ibukota provinsi baru. Mamuju, yang kini menjadi ibukota Sulawesi Barat, merupakan pengembangan dari kawasan transmigrasi. Selain itu, ibukota Kalimantan Utara, yakni Bulungan, juga lahir dari pengembangan kawasan transmigrasi.

Ketiga, program ini juga telah mendorong pembentukan ibukota kabupaten/ kota dan kecamatan. Tercatat, terdapat 104 permukiman transmigrasi yang berkembang menjadi ibukota kabupaten/ kota. Selain itu, 385 permukiman transmigrasi telah menjadi ibukota kecamatan.

Keempat, kontribusi positif transmigrasi yakni mendorong terbentuknya desa-desa baru. Dari 3.055 desa baru yang terbentuk dari permukiman transmigrasi, 1.183 telah menjadi desa definitif yang diakui oleh pemerintah. Kelima, transmigrasi juga mendorong swasembada pangan.

(Ade Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *