Dinas KBP3A Kabupaten Serang Fasilitasi KB MOP Bagi Pria

SERANG I DBC — Dinas Keluarga Berencana, Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Serang melakukan fasilitasi pelayanan KB Medis Operasi bagi Pria (MOP) di Kabupaten Serang.

Pelaksanaan pelayanan KB Medis Operasi Pria dilakukan beberapa angkatan  yaitu angkatan 1 dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2019 di RSU IBUNDA dan angkatan 2 dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2019 RSU IBUNDA. Pelayanan KB Medis Operasi Pria sebagai sarana dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan KB MOP di wilayah kecamatan Kabupaten Serang

Pelayanan  KB Medis Operasi  dilaksanakan dengan pelayanan KB MOP bergerak bekerja sama dengan RSU IBUNDA Serang dengan sasaran seluruh Pasangan Usia Subur yang  berasal dari wilayah kecamatan se kabupaten serang yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
– Pasangan Usia Subur yang  memiliki 2 anak atau lebih dengan anak terakhir berumur lebih dari 5 tahun.
– Sukarela mengikuti program setalah diberikan penjelasan/konseling
– Kondisi Bapak dinyatakan dapat mengikuti pelayanan KB Medis Operasi setelah dilaksanakan pemeriksaan oleh tenaga medis.

Baru-baru ini, laju pertumbuhan penduduk di Indonesia terjadi penurunan dari 1,49 pada tahun 2000-2010 menjadi 1,43 pada tahun 2010-2015. Laju pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan agar tetap seimbang agar daya dukung lingkungan tetap dapat terjaga. Di Provinsi Banten laju pertumbuhan penduduk masih cukup tinggi diatas nasional  angka mencapai 2.34 persen.

Kondisi terkini Angka TFR di Kabupaten Serang  masih berkisar 2.6  dengan CPR (Contraceptive Prevalence Rate) berkisar  60.65%  (Susenas, 2015) Melihat trend ini sangat diperlukan kebijakan khusus dalam rangka mengurangi tingkat putus pakai kontrasepsi pada akseptor KB yaitu kebijakan Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Serang dalam  meningkatan CPR (Contraceptive Prevalence Rate), meningkatan KB MKJP Medis Operasi, meningkatan Peserta Aktif (PA)  menurunan unmet need, dan menurunan angka putus pakai.

Kepala Dinas KBP3A, Takrul Wasyit menungkapkan, Progam Keluarga Berencana (KB) untuk menekan angka kelahiran selama ini dinilai hanya fokus dari sisi perempuan. Kebanyakan hanya perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi. Padahal, pria juga berperan besar untuk menyukseskan KB.

Ia mengatakan, penggunaan alat kontrasepsi oleh pria pun masih sangat rendah. Berdasarkan data, saat ini pria yang mengakses kontrasepsi hanya 4,6 persen.

“Pandangan laki-laki secara umum, tahunya KB itu ibu-ibu saja. Habis melahirkan, ibu KB. Laki-laki menganggap KB hanya urusan perempuan,” katanya.

“Soal KB sasarannya, kan selalu perempuan, kelompok ibu-ibu PKK. Bapak-bapaknya enggak pernah dikasih penyuluhan apapun,” katanya.

Selain itu, banyak persepsi yang salah tentang penggunaan alat kontrasepsi oleh pria. Misalnya, pria menganggap penggunaan kondom hanya akan mengurangi kenikmatan saat berhubungan seksual.

Kemudian, kebanyakan pria menganggap vasektomi atau kontrasepsi permanen untuk pria sama dengan kebiri. Menurut Takrul, hal itu hanyalah mitos dan sayangnya persepsi tersebut selama puluhan tahun tidak mengalami perubahan.

Di sisi lain, pria yang menggunakan alat kontrasepsi, menurutnya sudah sadar pentingnya program KB untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera.

“Hal-hal yang mendorong mereka menggunakan kontrasepsi itu karena persepsi tentang jumlah anak. Mereka makin ke sini kan sadar biaya sekolah dan lainnya makin mahal, karena kondisi kesehatan istri, faktor tekanan ekonomi, dukungan lingkungan sekitar dan persepsi relasi antara suami istri,” jelas.



Kepala Dinas KBP3A ini kembali mengungkapkan mengungkapkan, pelayanan KB Medis Operasi Pria merupakan strategi  pelayanan KB dengan meningkatkan partisipasi suami/ pria dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui keluarga berencana.

MOP cukup efektif dan efesien dalam menurunkan angka putus pakai terutama pada keluarga yang tidak ingin anak lagi. Penggunaan kontrasepsi mantap merupakan prosedur operatif yang dilakukan  satu kali dengan pengikatan terhadap vas deferens / saluran sperma  sehingga pada saat ejakulasi cairan ejakulat tidak didapati sel sperma sehingga ibu tidak terjadi pembuahan. Akseptor metode ini tidak diperlukan ulangan KB, sehingga cukup efektif mengurangi angka putus pakai kontrasepsi.

Kegiatan Fasilitasi Pelayanan KB Medis Operasi  Sebagaimana dengan hasil pelayanan peserta KB MOP sebanyak 15 akseptor.

“Pelayanan KB Medis Operasi Pria  terlaksana dengan bantuan mitra kerja dan peran aktif masyarakat. Peningkatan kesertaan KB MKJP dinilai lebih efektif dan efesien dalam rangka mengatur kelahiran,” katanya.

Sehingga, sambungnya, tujuan Meningkatnya kesertaan ber KB menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang dalam upaya Mewujudkan pertumbuhan penduduk yang  seimbang dan keluarga berkualitas  melalui keluarga berencana dapat tercapai. (ADVERTORIAL)








Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *