Tangani 15 Siswa SMK Korban Penyekapan, Dinsos Banten Terjunkan Tim LDP

SERANG I BDC — Dinas Sosial Provinsi Banten langsung menerjunkan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk melakukan penanganan terhadap 15 siswa SMK Negeri 3 Pandeglang, Banten yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oknum ABK di salah satu Kapal Bertaraf Internasioal, Kemarin.

LDP yang baru dibentuk Kepala Dinsos Banten pada 31 Oktober 2019 itu merupakan satu pelayanan diperuntukkan bagi para korban yang mengalami trauma akibat bencana alam dan bencana sosial. LDP terdiri dari terapi psikososial, konseling, psikoedukasi, serta penguatan – penguatan sosio psikologis lainnya. 

Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) Dinsos Banten, Irma Muliasari menyebut bahwa insident penyekapan dan penganiayaan terhadap 15 anak sekolah itu merupakan salah satu bencana sosial.

Sebagai bentuk tanggungjawab, pihaknya hari ini, Rabu (6/11) telah menerjunkan tim layanan dukungan psikososial.

“Disana mereka (tim LDP-red) akan melakukan asessment awal kepada 15 anak SMKN 3 Pandeglang yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan untuk kemudian dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai kebutuhannya,” katanya.

Irma menjelaskan, mereka yang menjadi tim LDP berasal dari Tagana, Supervisor Pekerja Sosial, Sakti Peksos, Pendamping anak, Pendamping Lansia, Pelopor Perdamaian, Pendamping Disabilitas, Psikolog, Pemerhati Anak dan lainnya.

“Kaitan dengan kasus ini, kemungkinan divisi anak dan remaja yang di dalamnya terdiri dari psikolog, pendamping dan pemerhati anak yang akan melakukan penanganan lebih lanjut. Terapi psikologi ini diharapkan mampu membuat mental dan psikis anak kembali normal sehingga anak bisa keluar dari traumatik paska kejadian itu,” kata Irma.

Sebelumnya diberitakan bahwa sebanyak 15 siswa SMKN 3 Pandeglang harus menjalani hari-hari yang dramatis setelah mereka melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di sebuah kapal nelayan milik perusahaan penangkapan ikan, dengan mengalami berbagai penganiayaaan.

“Saya dan teman-teman sering mendapat tekanan dan penganiayaan fisik dari kru kapal, diikat di atas kapal, bahkan ada yang mengalami luka,” ungkap Agung Gumelar, salah seorang siswa yang ikut PKL.

Kejadian itu bermula saat para siswa PKL berangkat dari Pelabuhan Perikanan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Timur menggunakan kapal untuk mencari ikan hingga Perairan Papua.

Selama perjalanan, bukannya mendapat pengalaman kerja, 15 siswa itu malah mengaku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari ABK kapal senior. Mereka kerap disiksa dan diperlakukan semena-mena.

Beruntung Agung dan ke-14 rekannya berhasil kabur, saat kapal bersandar di Timika, Papua Barat dan mendapat perlindungan dari relawan, TNI dan Polisi.

“Saat kapal bersandar, kami beralasan akan membeli kebutuhan sehari-hari di kapal, tetapi tidak balik lagi ke kapal,” katanya.

Sementara salah satu orang tua siswa, Asep Komarudin mengaku kaget usai mendapat kabar penganiayaan itu dari anaknya, bahkan anaknya yang bernama Eli Suhari itu, mengaku tidak kuat melanjutkan PKL.

“Anak saya dan teman-temannya sudah tak tahan karena sering dianiaya oleh kru kapal penangkap ikan. Bahkan makan saja, sering di kasih nasi sisa,” ujarnya.

Kepala Sekolah SMK Negri 3 Pandeglang, Ir. Susila membenarkan kejadian itu. Saat mendengar para siswa sudah kabur, pihak sekolah langsung membelikan tiket pesawat menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

“Anak-anak semua sudah ada di rumah masing-masing. Alhamdulilah sehat walafiat, mereka naik pesawat terbang. Kita jemput ke bandara, sampai magrib sudah ada di SMK 3, kita serah terima dengan keluarganya,” katanya.

Susila mengatakan ke lima belas siswanya telah dipulangkan dalan kondisi sehat, dan langsung diserahkan pada orang tuanya masing-masing.

“Intinya anak-anak dalam kondisi sehat wal afiat dan sudah kita serahkan ke orang tua masing-masing. Sekarang sudah ada di rumah masing-masing.” kata Susila saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Menurut Susila, setiap tahunnya para siswa SMKN 3 Pandeglang melalukan Prakte Kerja Lapangan (PKL) dengan pihak perusahaan Yuana di Jawa Timur.

“Memang kita setiap tahun mengirimkan siswa untuk PKL ke PT. Yuana untuk di didik tentang pelayaran, dan mereka juga diberikan upah sesuai hasil tangkapan ikan di laut. Selama 3 bulan para siswa berada di laut, dan akan kembali melaut setelah menyetorkan hasil dari tangkapannya itu. Para siswa senang karena dilatih secara profesional,” tuturnya.

Kemungkinan lanjutnya, anak-anak tidak dengan para ABK di kapal, sehingga membuat para siswa tidak kuat dan memilih untuk pulang dengan jalan kabur. Dan sebagian siswa masih mengikuti PKL dengan perusahaan tersebut.

“Para siswa yang sudah kita serahkan pada orangtuanya, nanti akan membuat laporan masing-masing. Yang penting sekarang para siswa dalam kondisi sehat baik-baik saja,” ujarnya. (ade gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *