Atasi Kredit Macet Bank Banten, Pemprov Gandeng Bareskrim

SERANG, DINAMIKA BANTEN — Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akan dilibatkan dalam penyelesaian kredit macet Bank Banten peninggalan Bank Pundi. Nantinya para kreditur nantinya akan didatangi oleh aparat kepolisian untuk dilakukan penagihan. Hal itu dilakukan sebagai upaya penyehatan bank plat merah tersebut.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, ada sejumlah tantangan yang harus dijawab dalam upaya penyehatan Bank Banten. Salah satunya adalah penyelesaian kredit macet yang berasal dari Bank Pundi. Nilai kredit macet sendiri mencapai Rp1,6 triliun dan sulit tertagih.

“Bank Pundi memberikan kredit asal jadi, tidak rasional. Ini menjadi risiko manajemen yang baru. Kami sudah ambil langkah, rasio likuiditas sudah baik dan perbaikan lainnya,” ujarnya, kemarin.

Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu menuturkan, untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut pihaknya kini telah bekerja sama dengan Bareskrim Polri. Dalam pelaksanaannya, nanti petugas kepolisian akan ikut turun tangan dalam melakukan penagihan.

“Kredit macet Bareskrim juga yang akan turun. Nagih-nagih ke pegawai yang macet kreditnya. Di-backup habis Bareskrim. Insya Allah sudah ada perubahan,” katanya.

Selain penyelesaian kredit macet, kata dia, ada tiga hal lain yang mesti dibenahi untuk menjadikan Bank Banten sebagai bank sehat yaitu permodalan, manajemen dan likuidasi. Untuk manajemen, kini Bank Banten telah dibantu tim asistensi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“Bank ini sudah sehat atau belum itu sekarang baru turun tim asistensi manajemen. Ada teknikal manajemen yang datang dari BRI, ditugaskan untuk menelusuri mencatat, merekam dan melihat apakah bank ini layak dinyatakan sehat atau tidak,” ungkapnya.

Selanjutnya untuk likuiditas dan permodalan, pemprov dan Bank Banten terus melakukan berbagai upaya. Untuk sisi likuiditas Bank Banten telah menerima dukungan dari Sinarmas Group. Dari nilai kerja sama yang direncanakan Rp600 miliar baru Rp200 miliar yang telah turun.

“Bankok Bank investor kalau Sinarmas membantu permodalan sementara. Nanti titip duit, di sini kita gunakan salurkan kepada klien dia. Enam bulan kita kasih waktu. Nanti kalau sudah jalan uang itu bisa digunakan untuk klien dia, nasabah dia. Bangkok Rp1 triliun tapi masih dalam proses negosiasi,” tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkan mantan Camat Tigaraksa, Kabupaten Tangerang itu, sedangkan untuk pembenahan permodalan Bank Banten juga kini sedang menggelar right issue.

“Itu di bursa saham nilai kita sudah Rp100 lebih (per lembar saham). Dulu dibeli Rp50, sudah untung. Kita lihat (right issue) ditutup tanggal 6-7 (Januari) besok. Kalau stabil nilainya Rp120 berarti sudah ada nilai tambah, enggak rugi buat pemerintah juga,” ujarnya.

Disinggung apakah ketika empat catatan itu terpenuhi maka Bank Banten akan langsung dinyatakan sehat, ia menegaskan jika itu sepenuhnya menjadi ranah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kita menunggu keputusan OJK, nah OJK kemarin persyaratkan coba turunkan tim asistensi ke lapangan. Di situ baru OJK dapatkan saran, pertimbangan dan masukan,” katanya.

Terkait hal tersebut, Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa belum memberikan keterangan. Yang bersangkutan tak merespon upaya konfirmasi yang dilayangkan wartawan. (adg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *