Atasi Kesulitan PJJ, SD Negeri Serang 13 Selenggarakan Klinik Pembelajaran

Serang I Dinamika Banten — Guna memaksimalkan pembelajaran di tengah masa pandemi Covid-19, SD Negeri Serang 13 Kota Serang melakukan sebuah terobosan dengan menyelenggarakan klinik pembelajaran.

“Klinik Pembelajaran dan Guru Kunjung merupakan solusi yang diberikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang. Dari dua solusi tersebut, Klinik Pembelajaran menjadi solusi yang saya pilih untuk diterapkan,” kata Agus Zatnika Kepala SD Serang 13 saat disambangi Dinamika Banten di Serang, Senin (13/9/2021).

Agus menjelaskan, layanan ini berfungsi sebagai penguatan Kegiatan Belajar dari rumah kepada siswa yang memiliki masalah dalam pembelajaran daring. Menurutnya, Klinik Pembelajaran menjadi titik terang bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran daring, sehingga tidak ketinggalan materi pada muatan dan kelas tertentu. Namun dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

“Dimulai dengan kesiapan sekolah dalam menyediakan sarana cuci tangan dengan air mengalir, menyiapkan cairan pembersih tangan, rutin menyemprot kelas dan lingkungan sekolah dengan disinfektan, menyiapkan Face Shield, menyiapkan masker, menyiapkan Thermogun, dan mengatur jarak meja minimal 1,5 meter agar siswa dapat menjaga jaraknya,” jelasnya.

Agus Janika

Disamping itu, Agus melanjutkan, guru juga memberikan tata tertib yang wajib dipatuhi oleh siswa yang mengikuti klinik pembelajaran, yaitu; 1) siswa yang mengikuti klinik pembelajaran di sekolah agar memakai sepatu dan pakain yang rapi serta bersih, 2) semua siswa agar mematuhi protokol kesehatan, yaitu mau diukur suhu tubuh, mencuci tangan, memakai masker, memakai face shield, dan tetap menjaga jarak dengan teman, 3) waktu klinik pembelajaran hanya berlangsung selama 2 jam pelajaran, 4) tidak ada waktu istirahat bagi siswa, ketika sudah selesai kegiatan klinik pembelajaran maka siswa langsung pulang ke rumah masing-masing, dan 5) klinik pembelajaran akan dihentikan sementara, jika ada warga sekolah yang terkena Covid-19 dan akan dibuka kembali, jika situasi sudah memungkinkan.

Menurutnya, kegiatan klinik pembelajaran dapat dilakukan di ruang kelas ataupun di luar kelas asalkan nyaman untuk pembelajaran dan memungkinkan siswa untuk tetap menjaga jarak.

Bagi siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran daring dan juga tidak mengikuti klinik pembelajaran, maka guru berkewajiban untuk berkunjung ke rumah siswa. Hal ini dimaksudkan untuk melihat keadaan siswa dan melakukan diagnosis berkala terhadap masalah yang dihadapi siswa. Selain itu, melalui guru kunjung, guru juga dapat berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk mengetahui permasalahan – permasalahan yang terjadi ketika siswa belajar di rumah, sehingga dapat ditemukan solusi bersama terhadap kendala yang dihadapi.

Dengan adanya Guru Kunjung dan Klinik pembelajaran, sambungnya, diharapkan sekolah tetap dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa untuk memenuhi haknya dalam menimba ilmu, meski masih dalam masa pandemi Covid-19

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, Sarnata mengatakan untuk tahun pelajaran baru 2020/2021, sudah resmi dimulai pada 13 Juli 2020 lalu. Sementara ini, pembelajaran tetap diadakan secara online.

“Sesuai Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, pembelajaran tatap muka (PTM) bisa dilaksanakan di daerah yang masuk zona hijau. Sedangkan Kota Serang sementara ini masih zona kuning,” ujarnya.

Sebelum menghadapi tahun ajaran baru, kata Sarnata, dari Dindikbud Kota Serang juga telah menggelar rapat bersama Forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (FK3S, perhimpunan kepala sekolah SD) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP se-Kota Serang, untuk mempersiapkan kurikulum pembelajaran secara online. Juga mereview terkait persoalan-persoalan siswa dalam menghadapi pembelajaran secara online.

“Persoalannya, memang tidak semua murid mendapat akses internet, sehingga tidak bisa mengikuti pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Nah untuk persoalan itu, kami sudah minta agar tetap melaksanakan program guru kunjung. Jadi siswa yang tidak mendapat akses internet, diberikan soal-soal pembelajaran langsung ke rumahnya. Dilakukan jemput bola,” ucap Sarnata.

Di samping memberi layanan jemput bola kepada siswa yang kesulitan akses internet, sambung Sarnata, program guru kunjung itu juga menjalani layanan pendampingan langsung kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar itu, bisa saja siswa yang bersangkutan ada dalam jaringan, namun sulit mencerna tugas-tugas yang diberikan, sehingga perlu mendapat pendampingan langsung. “Jadi guru kunjung itu, juga memberi pendampingan langsung kepada siswa. Harapannya, saat pendampingan itu, para orangtua juga ikut mendampingi anaknya,” ucapnya.


Jika persoalan yang dihadapi siswa tidak bisa diselesaikan melalui program guru kunjung, kata Sarnata lagi, masing-masing sekolah diharapkan membuka klinik pembelajaran di masing-masing sekolah. Melalui klinik pembelajaran dengan memanggil sejumlah siswa yang kesulitan menghadapi pembelajaran secara daring itu, diharap bisa dijadikan solusi untuk memberikan pembelajaran lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. “Kalau yang memang sudah bisa mengikuti secara daring, tetap daring. Klinik pembelajaran itu, khusus untuk siswa-siswa yang kesulitan belajar. Jadi diberikan bimbingan langsung di sekolah,” ujarnya.

Klinik pembelajaran tersebut, Sarnata melanjutkan, bukanlah PTM dengan menghadirkan siswa dalam satu kelas. Tetapi hanya menghadirkan beberapa siswa, paling tidak maksimal 5 orang siswa untuk diberikan bimbingan langsung, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Saat bimbingan itu, juga diharapkan kehadiran para orangtua siswa, untuk bersama-sama membimbing anaknya.

Secara umum, kata Sarnata, program guru kunjung maupun klinik pembelajaran itu sudah berjalan di beberapa sekolah. Sementara beberapa sekolah lainnya, ada yang masih melakukan pemetaan terhadap siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar secara daring. “Yang pasti, untuk melakukan kunjungan maupun klinik pembelajaran itu, tetap memperhatikan protokol kesehatan. Satu sisi memberi solusi untuk siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan satu sisi tetap menjaga keamanan,” tandas Sarnata lagi. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *