90 Persen Siswa SMAN Padarincang Ikuti Pembelajaran Daring

SERANG I DINAMIKABANTEN.CO.ID — Pandemi Covid-19 yang masih merajalela di seluruh negeri Indonesia dan belahan dunia nyatanya tidak menyurutkan antusias siswa SMA Negeri Padarincang untuk mengikuti kegiatan pembelajaran baik secara daring maupun luring.

Bahkan dari data yang dimiliki sekolah, rata-rata 90 persen siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring. Adapun sisanya yang tak mengikuti adalah karena berbagai alasan yang wajar dan patut dimaklumi sekolah.

“Hingga saat ini proses KBM daring berjalan dengan lancar. Adapun kendala yaitu soal jaringan telekomunikasi yang kadang terganggu,” ucap Kepala SMA Negeri Padarincang, Kartono kepada Tangerang Raya melalui sambungan selular, Minggu (29/11/2020)

Kartono mengakui dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mendukung pembelajaran secara daring. “Bantuan kuota bagi guru dan siswa setiap bulan telah diterima secara langsung melalu ponselnya. Dan saat ini sudah masuk tahap ketiga dengan masing-masing 30 GB/guru dan 15 GB/siswa” ucapnya. katanya.

Ia mengaku enggan berasumsi soal pembelajaran tatap muka. Pasalnya dari arahan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten dalam sebuah pertemua bersama MKKS SMA menekankan bahwa selama belum ada intruksi dari Gubernur Banten seluruh SMA/SMK/SKh di Banten untuk tetap menjalankan pembelajaran secara daring.

“Jadi soal KBM tatap muka, intinya kita tunggu intruksi Bapak Gubernur Banten. Karena memang nanti jika memang kelak sudah siap, sejumlah sekolah akan dikunjungi jajaran Dindikbud untuk melihat sejauh mana kesiapannya dalam mematuhi Protokol Kesehatan,” bebernya.

“Hal-hal yang akan dicek yaitu soal kesediaan tempat cuci tangan, sabun, jarak antar meja belajar, masker dan lain sebagainya,” tandasnya lagi.

Lebih lanjut, Kartono menjelaskan langkah-langkah jelang akhir pembelajaran yang akan berhadapan dengan kelulusan siswa kelas XII. “Tahun ini UN kan dihlangkan dan diganti dengan Assessment Kompetensi Siswa (AKM),”

Ia menjelaskan bahwa ssesmen nasional sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

Diterapkannya kebijakan ini merupakan penanda perubahan paradigma evaluasi pendidikan dan peningkatan sistem evaluasi pendidikan. Tujuan utamanya mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

“Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah kompetensi yang benar-benar minimum, dimana melalui AKM pemerintah bisa memetakan sekolah-sekolah di daerah berdasarkan kompetensi minimum yang harus dipersiapkan,” tukasnya. (adg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *