4.459 Hektar Sawah di Banten Terancam Puso, Distan Upayakan CBD dan AUTP

Serang- Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengatakan, musim kemarau di wilayah Provinsi Banten mulai memberikan dampak terhadap ribuan hektar sawah di Banten.

Berdasarkan laporan per 31 Agustus 2018, luas lahan yang terdampak kemarau dan berpotensi mengalami puso mencapai 4.459 hektar. Sebanyak 1.431 hektar sawah mengalami kekeringan dengan kondisi ringan, 1.117 hektar kondisi sedang dan 717 hektar kondisi berat.

“Khusus untuk lahan yang mengalami puso memang masih kecil tercatat mencapai 194 hektar. Tapi luas lahan yang terdampaknya sangat banyak,” kata Agus Tauchid melalui sambungan selular, Senin (17/9).

Untuk lahan yang mengalami puso, lanjut Agus, paling banyak terjadi di Kabupaten Tangerang dengan kisaran luas mencapai 105 hektar. Disusul Kabupaten Serang dengan luas mencapai 77 hektar, dan Kabupaten Lebak 12 hektar.

Dari data yang dimilikinya, Agus juga merinci daerah-daerah yang mengalami kekeringan. “Untuk di Kabupaten Pandeglang sebanyak 270 hektar dalam kondisi ringan, 7 hektar sedang dan 5 hektar ringan. Untuk wilayah Kab. Lebak sebanyak 479 hektar dalam kondisi ringan, 89 hektar sedang dan 56 hektar berat,” kata Agus.

Selanjutnya, kata Agus, untuk wilayah Kab. Tangerang 809 hektar dalam kondisi ringan, 589 hektar sedang dan 347 hektar berat. Kemudian Kab. Serang sebanyak 851 hektar dalam kondisi ringan, 420 hektar sedang dan 291 hektar dalam kondisi berat.

“Kemudian untuk daerah Kota Serang yang mengalami kekeringan dalam kondisi ringan sebanyak 22 hektar, kondisi sedang 12 hektar dan kondisi berat 18 hektar,” beber Agus.

Agus mengklaim bahwa ketiga kondisi tersebut (ringan, sedang dan berat) masih bisa diantisipasi dan diselamatkan dengan mengirimkan pompa air bagi lahan yang masih memiliki potensi air. “Pompa sudah siap digunakan, tinggal digerakkan petugas di lapangan,” jelasnya.

Meski dihantui kemarau panjang, Agus optimistis target produksi padi Banten bisa tetap tercapai.

“Saya tetap optimis target produksi tahun 2018 ini akan tercapai bahkan bisa melampaui. Sebab luas lahan sawah yang terdampak kekeringan yang saat ini sangat kecil. Sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan,” pungkasnya.

Namun demikian, sambunya, kami juga tidak menganggap kecil terhadap persoalan kekeringan ini, karena yang menjadi korban dan mengalami kerugian adalah para petani. Oleh sebab itu, Agus tengah menyiapkan langkah cepat untuk memberikan bantuan berupa bibit gratis melalui program Cadangan Bibit Daerah (CBD).

“Pemerintah Provinsi Banten melalui dinas pertanian akan memberikan bantuan benih secara gratis melalui program cadangan benih daerah (CBD) bagi para petani yang padinya mengalami puso (padi kosong). Ini adalah salah satu solusi yang kita berikan, agar petani yang lahannya mengalami kekeringan tidak merasa kecewa akibat cuaca kemarau panjang ini,” tuturnya.

Tidak sampai disitu, Agus juga menyarankan petani di Banten untuk ikut serta dalam program AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi). Menurutnya, Asuransi Pertanian ini melindungi usahatani karena merupakan pengalihan risiko yang dapat memberikan ganti rugi akibat kerugian usahatani sehingga keberlangsungan usahatani dapat terjamin.

“Asuransi usahatani padi (AUTP) dapat memberikan jaminan terhadap kerusakan tanaman akibat banjir, kekeringan, serta serangan hama dan penyakit tumbuhan atau organism pengganggu tumbuhan (OPT), sehingga petani bisa memperoleh ganti rugi sebagai modal kerja untuk keberlangsungan usahataninya,” tuturnya.

“Saya harap di bulan Oktober sudah hujan sehingga bisa langsung masuk musim tanam 2018-2019,” tandasnya.

Sementara itu akibat kekeringan yang berkepanjangan ini, sebagian petani yang masih mempunyai modal banyak yang membuat sumur di sawah kemudian di sedot menggunakan disel. Namun bagi yang sudah tidak punya modal hanya bisa pasrah.

Menurut salah satu petani dari Kelurahan Kasemen, Kota Serang mengatakan, akibat kemarau panjang banyak petani yang merugi akibat tanaman padinya puso.

Namun bagi yang tanamnya lebih awal mereka masih bisa memanen padinya dengan baik sebab mulai tidak ada hujan sudah dua bulan terakir ini sehingga tanah sawah mulai pecah karena kering.

Sementara masih ada beberapa petani yang memetik padinya sekalipun hasilnya tidak maksimal. Namun juga banyak petani yang membiarkan padinya kering di sawah karena puso.

Petani hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan pahit ini. Namun petani juga berharap pemerintah bisa membantunya untuk membuatkan sumur untuk pengairan sawah.

Padahal, usia tanaman padi sudah siap panen hingga bulan Oktober mendatang. Untuk itu para petani harus mencari solusi supaya tanaman padinya tetap bisa panen sesuai target, diantaranya dengan membuat sumur bor untuk irigasi sawahnya tersebut/meskipun harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak. (ade gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *